Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Beberapa hari yang lalu jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke 480, sebuah usia yang cukup tua untuk membangun kota ini dari belantaran rawa hingga menjadi kota metropolitan bahkan konsep megapolitan. Ya.. megapolitan bukan metropolitan lagi, meskipun ungkapan tersebut banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak karena terkesan jakarta ingin mencaplok wilayah kota di pinggirannya.
Terlepas dari itu semua, ada pertanyaan besar yang berkecamuk didalam otak saya. Dimanakah letak ISLAM itu berada…?? Apakah ia akan semakin berdiri kokoh dan kuat ditengah derasnya terpaan zaman, ataukah luntur seiring dengan pudarnya moral..??
Mau ngga mau kita sebagai umat islam bertanggung jawab akan perubahan yang terjadi…
Seperti hal yang saya temui pagi dini hari, suatu keadaan jakarta yang urban banget..
Dentuman musik hip hop yang menghiasi kemacetan panjang suatu sudut di daerah kapitalis kemang membuat rhytms para hedonis rising high. Kaum hawa diringi oleh kaum adam mengepakkan sayapnya untuk terbang bersama dunia melintasi keceriaan malam yang berkelap kelip penuh dengan warna warni yang palsu.
Berfikir mungkinkah Allah melintas dalam pikiran mereka..???
Tapi bagaimana mungkin, keterbatasan kain yang membungkus tubuh mereka hanya sampai pada (maaf..) bagian kemaluan saja, itupun kalau mereka merasa malu. Tanpa merasa bersandar pada kasih sayang Allah, kaum hedonis benar2 terbius oleh kesempurnaan tubuh ataupun kemewahan materi yang seharusnya menjadi amanah mereka untuk berbagi bersama kaum dhuafa.
Tapi Alhamdulillah, saya melihatnya. Melihat segerombolan anak muda membagi-bagikan makanan kotak kepada kaum dhuafa yang hanya dianggap sampah bagi kalangan pecinta dunia. Saya melihat wajah lusuh mereka bersinar seiring dengan senyuman kebahagiaan yang tulus meskipun dipundak mereka memikul beban karung yang berisi plastik botol minuman.
Meliuk-liuk mencari celah untuk dilewati diantara padatnya kemacetan yang terjadi, tercermin jelas keAmburadulan letak tata kota jakarta (Suatu sistem yang salah pada awal dibentuknya kota ini dan menjadi kaprah karena sistem tersebut tidak memikirkan dampak jangka panjang, intinya : sistem salah kaprah). Akhirnya roda ini mengantarkan saya pada penghujung kemacetan. Subhanallah, mata ini seolah dipaksa untuk percaya fenomena yang sedang terjadi, ribuan massa yang berpakaian baju koko putih lengkap dengan sarungnya berorasi sepanjang jalan kemang raya yang memblokir jalan kearah cilandak. Gema takbir yang berkumandang bersahutan membuat kaum yang berencana all night long berpikir kembali dan menelan ludah. Kekalutan terlihat jelas dari ekspresi sikap mereka yang mulai berbondong2 meninggalkan tempat-tempat yang menyajikan entertainment malam. Aktivis2 muslim pun semakin bersemangat berorasi melihat dajjal2 kecil itu pergi dari daerah yang terkenal gaul tersebut. Alhamdulillah, ternyata suara islam tersebut masih sempat saya dengarkan di tengah keramaian suasana jedag jedug jakarta.
Sayangnya, di saat saya dengan tenang memarkirkan kendaraan dan bergegas masuk memesan a cup of mocha coffe, kemeriahan umat islam berangsur-angsur memudar. Merasa pagi akan segera tiba dan saatnya mereka bermunajat bersujud memohon islam di indonesia, khususnya jakarta.
Hmmph, senang, karena coffeshop langganan saya untuk melepaskan uneg2, refresh otak, create new idea, dan bikin momment2 unforgetable menyisakan kavling untuk duduk di sofa dan dunlod2 sesuatu untuk dipelajari, untungnya bawa laptop jadi koneksinya cepet, karena jika menggunakan komputer yang disediakan d tempat ini, koneksinya lemot banget dan ngga bisa dunlod.
Dawn will be coming, so i have to prepare to praying to the GOD LORD… Coloring kemang wit islam culture. Alhamdulillah this place have a prayer room (mushola) beside the main building.
(Wondering the story finish here…but wait a minute…)
Selesai sholat subuh, tiba2 suara orang ber-kebunbinatangan terdengar kenceng sampai mushola, ternyata di dalem lagi seru2nya anak2 “gelo” berantem adu jotos, and i’ve seen it clearly, kaget juga subuh2 udah di warnai dengan baku hantam dan battle omongan xxxxx. Alhamdulillah Allah still save me in a better place, mushola.
Just for a second get to thinking…. each momment is new and breeds a momment.
AllahualamBishowab….
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

i’m comfortable reading your blog. Mmmm.. that’s very unforgetable moment for you i think. Keep going up to praying just for ALLAH SWT, no others!!!
Best Regards,
Your friend
Komentar oleh ghoz Juli 3, 2007 @ 4:41 amwebnya feminin euy. seneng gue
Komentar oleh magdalena haiti Juli 21, 2007 @ 1:40 pm